PENYELEWENGAN TERHADAP ARTI MAKAR



Sebenernya pemerintah tahu apa gak sih tentang arti MAKAR? Kok saya heran makar di artikan pemberontak.
Terkadang saya sendiri agak ketawa tentang tokoh delapan yang di ciduk dan di tuduh sebagai makar, padahal tokoh itu bisa di bilang orang yang lumayan titis, tegas dan  jujur dalam urusan sistem pemerintahan. Mungkin dari pihak kepolisian juga merasa bingung atas tuduhan itu, yang di pasalkan apa nya. Justru delapan tokoh itulah kunci dari aksi 411 dan 212, karena kunci sudah di cabut, maka aksi itu berubah menjadi sholat Jumat di monas. Itu menunjukkan ketakutan terbongkarnya kecurangan pemerintah jkw terhadap rakyat. Bagi saya tokoh 8 itu lumayan tidak di bunuh, sedangkan tokoh aktivis HAM Munir di bunuh. Ya begitulah namanya hidup suatu negara, terkadang kejujuran itu harus berjalan di atas bara api yang membara, di ancam, di tuduh, di fitnah, dan di penjara. Arti yang lain, orang baik akan di kelilingi orang jahat.
Pertanyaan saya, siapa nanti yang akan melindungi 8 tokoh itu? ..., padahal semua rakyat indonesia tahu bahwa takoh itu tujuannya baik demi bangsa kita.

Sedangkan delapan tokoh itu juga berhak bicara untuk menyampaikan aspirasi rakyat sebagai bentuk pembelaan dan perjuangan hidup di tengah tengah kebangsaan demi keutuhan NKRI yang selama ini rakyat selalu di jadikan ajang budak pemerintah, di begal dengan manipulasi. Bahkan aksi 4/11 dan 2/12.  bisa di katakan bentuk perlawanan atas kebohongan pemerintahan Jkw. Padahal pemerintah sendiri yang melakukan makar, rekayasa sistem aturan kebijakan.

Emang benar apa kata budayawan indonesia, bahwa sekarang ini banyak kalimat yang rawan di salah artikan dan rawan di fahami, dan paling rame sekarang ini adalah kalimat Makar. Ini sungguh luar biasa meledaknya kata makar yang di selewengkan.

Akan tetapi jauh sebelum kata makar juga ada kalimat politik yang di selewengkan. Ini juga menjadi momok permasalahan era sekarang, karena sudah terlanjur bertahun tahun, ya beginilah titik ending akhirnya.
Saya akan memberikan suguhan baru, di mana hasil pemahaman dan pandangan saya selama ini, meskipun suguhan ini bisa menjadi perbedaan pandangan, tetapi bisa di jadikan renungan atau diskusi obrolan  ketika ngopi di warung.

(1)- Kalimat SIASAT kebanyakan orang di maknai politik, padahal itu bahasa Arab yang artinya strategi, dan strategi dulu di gunakan untuk sistem kemiliteran. Siasat itu dulu di pake untuk peperangan, dan itu sudah menjadi hal yang biasa, coba lihat strategi Kholid bin Walid ketikan mengalahkan tentara Islam waktu perang uhud, setelah fatkhu-Makkah Kholid bin Walid masuk islam menjadi jendral Muslim di perang mu'tah, dan salman Alfarisi membuat bangker atau perang khondaq pada zaman nabi. Sementara sistem aturan untuk peperangan dan sistem aturan pemerintahan sangat berbeda.

(2)- Kalimat POLITIK itu tidak ada dalam bahasa arab , itu juga bukan bahasa untuk mengatur negara , juga bukan bahasa negri. Menurut versi saya politik itu artinya permainan. Jadi kalau ada partai politik yang mengatasnamakan rakyat, itu berarti "partai Permainan". Yang namanya permainan itu ajang coha mencoba bukan sungguhan.

(3)- Kalimat MAKAR.
Sedangkan Makar itu artinya Rekayasa. Kalimat itu sendiri bahasa arab yang di indonesiakan menjadi "MAKAR". Ini bisa di bilang penyelewengan terhadap arti sebenarnya,
Contoh makar adalah Seandainya kita orang Islam di wajibkan zakat kambing, nisobnya 40 kambing, maka harus mengeluarkan zakat,  dan sebelum 40 di jual dulu, supaya tidak terkena nisob. Inilah namanya rekayasa atau makar.
Contoh lain seandainya kita di wajibkan membayar pajak atas kekayaan, supaya tidak kena pajak, maka uang kita di tabung di luar negri. Inilah namanya makar.

Dalam Study fiqih fatkhul qorib, juga di menjelaskan tentang "BUGHOT" artinya pemberontak yang dilakukan oleh rakyat, kalau zaman dahulu biasanya bughot ini di lakukan rakyat kepada imamah atau pemimpin yang jujur, baru di sebut bughot. Dan bughot harus di perangi.
Lantas bagaimana dengan imamah yg tidak jujur alias pemimpin Fajir, dzolim terhadap rakyat nya.
Wah ini juga pembahasan yang panjang bro. Nak tak ceritakan semua, ntar pada nuduh aku negarawan, hahaha kwwkw. Mengko Sing lulusan sarjana ilmu pemerintahan pada protes karo aku bro! Hahhahahaha

Aku gak tahu apa yang terjadi pemerintahan indonesia saat ini, bisik bisik rakyat tentang peristiwa 4/11 dan 2/12 kemaren menjadi pelajaran bagi ummat Islam khususnya. Sehingga munculah beberapa tokoh yang di tuduh sebagai makar terhadap pemerintahan sekarang. Meskipun kalimat makar itu di selewengkan dari arti yang sebenarnya. Ini sama aja dengan "Maling teriak maling, Teroris teriak teroris, dan Makar teriak makar".


Peristiwa itu diawali ucapan oleh mantan gubernur DKI Ahok, yang di nilai menistakan agama, kini menjadi bulan bulanan rakyat. Sepandai pandai nya orang berkuasa, pasti akan terpeleset juga, jangan di kira semua pejabat itu tidak pernah bersalah, emangnya dia itu Tuhan, yang bisa marah marah setiap bawahannya tidak sengaja melakukan kesalahan. Itulah balasan rakyat kepada Ahok.
Orang yang terkenal dengan ceplas ceplos, lidah liar baik cara memimpinnya, ternyata ketika di persidangan termehek-mehek, menangis tersedu sedu. Ini drama atau supaya mendapat pembelaan atau apa gitu, air mata buaya. aku juga tak tahu.
Pertanyaan saya,
Kenapa si **** baru menangis ketika di persidangan, dan kenapa ****  mengemis pembelaan diri dengan mengundang tokoh ulama' dari Mesir?.. mestinya menangis nya ketika penggusuran. gitu baru pas logikanya.

Ada orang bilang jkw dan Ahok ini jujur, tegas,  tidak korupsi, bisa membangun Jakarta, emangnya dia aja yang jujur. Sejarah dunia raja Fir'aun, raja Namrud, itu juga jujur, tegas, tidak korupsi, bisa membangun kerajaan, dari cara mendesain perkotaan sampe desa desa. Rakyat juga sejahtera, bahkan Firaun ini bisa membuat makanan yang selama 40 hari tidak berak dan kencing dan tidak masuk WC.

Menurut caknun yang namanya pemimpin sudah sepantasnya harus tegas, jujur, bisa membangun mensejahterakan rakyat. Dan itu bukan prestasi, tapi itu fitrah asli kewajiban pemimpin.
Kalau ayam bisa berkokok, ya begitulah ayam aslinya, nah yang terjadi pemerintahan skarang ini ada ayam berkokok di kasih piagam mendapat prestasi di gembor-gemborkan lewat media. Ini kan lucu, ungkapnya. Ger-geran ketawa bersuitan para jamaah. Hahhahaa

Ohya temen temen pembaca yang Budiman!
Pernah dengan Sya'ir dalam kitab Ta'limul-Mutta'allim, "Mati nya seorang pemuda karena terpeleset lidahnya, bukan mati  karena terpeleset kakinya, kalau kaki terpeleset, mungkin paling banter patah tulang dan bisa harapan sembuh, tapi kalau terpeleset lidahnya ini bisa patah NKRI, patah persaudaraan-nya yang mengakibatkan mati berdarah darah (alias pertengkaran maupun pertikaian antar sesama). Itu lah kasus si ahok yang tak bisa menjaga lidahnya sehingga mengakibatkan perpecahan antar rakyat Indonesia. Kemudian disusul aksi besar pada 411 dan 212. Seandainya yang ngomong ini bukan pejabat, ya mungkin gak ada masalah, tetapi ini yang ngomong pejabat, pasti jadi masalah besar. Karena pada dasarnya pemimpin itu bisa di jadikan contoh pada rakyat.

Manusia di hargai di hormati dan di kagumi karena lidahnya, atau sebaliknya, manusia di benci di caci-maki, dan di hujat juga karena lidahnya. Banyak juga manusia tergelincir karena tidak bisa menjaga mulutnya. Karena ucapan dari lidah itu ibarat "Anak panah yang keluar dari busur, sesekali sudah terlepas, maka sulit untuk menariknya". Entah anak panah itu mengenai sasaran atau tidak, yang jelas terlepas nya itu sulit di tarik kembali, begitu juga dengan ucapan sesekali sudah terlepas bicara, sulit menarik kembali ucapan itu. Malah ada sebagian ulama' mengatakan lidah itu seperti pisau atau benda yang sangat tajam, kalau tajamnya pisau hanya bisa memotong benda yang lunak dan keras. Sedangkan tajamnya lidah bisa memotong sesuatu yang tidak bisa di potong oleh pisau.

Wassalam
Nb: kalau salah di benerkan nih!
____________
Jogjakarta / Kamis /15 / Desember / 2016
Lek son. Wong ndeso.