PEMILU SALAH KAPRAH



Pada suatu hari ada dua seorang petinju, yang ingin menjadi juara. Dua duanya nama sangat terkenal di masyarakat, meskipun semua masyarakat belum melihat secara langsung. Di antara kedua petinju ini mempunyai seporter masing masing pihak petinju tersebut.

Pertandingan sudah di mulai, dari strategi saling merendahkan atau dengan cara menghasut kebijakan yang sudah di sepakati bersama. Namun ironisnya baru permainan babak satu ronde, para pendukung masing masing petinju ini saling menilai atau mengklamirkan diri  "Akulah yang menang". Atau kata lain "Akulah juaranya". Sementara wasit dan para juri ini belum memutuskan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Dan lucunya bahkan sang wasit malah ikut membocorkan tergiring Untuk memberi tahu kepada pendukung siapa yang menang dan siapa yang kalah. Mestinya si wasit atau si para juri menegur para pendukung petinju yang merasa menang tersebut, kan semua keputusan ada di tangan juri dan wasit dan harus menunggu kebijakan yang sudah di sepakati bersama. Gt kiranya .

Peristiwa di atas tak ubahnya sperti permainan pemilihan umum Pilkada atau pemilihan pemimpin kemaren. Aku kira hanya cukup di masa pemilihan sosok Jkw vs Prabowo. Akan tetapi kini di Pilkada malah terulang lagi. Di mana para pendukung Paslon ini sudah memberitahukan diri, apakah aku kah paling banyak suaranya, atau akulah yang menang.
Lucu bin ajaib. Padahal Pihak KPU belum memutuskan perolehan paslonnya berapa, dan siapa yang Menang dan yang kalah.
Piye bro. Menurutmu?
Ini pemilihan pemimpin atau pemilihan Genk!

Ohya maaf ya temen temen pembaca!
Saya ini bukan politikus, bukan negarawan, bukan pejabat, bukan ahli pakar tata negara, dan bukan siapa siapa, aku hanya  warga sipil atau pemuda ingusan biasa yang kebetulan sedikit mengamati peristiwa yang berkembang di negara kita tercinta. Akan tetapi menurut pandangan saya, yang terjadi Pilkada kemaren banyak pendukung paslon yang melanggar kode etik kebijakan maupun keputusan. Mestinya dari pihak KPU, ahli tata negara atau pemerintah menegur pendukung Paslon yang merasa paling menang. Mekipun tidak melanggar hukum, alangkah baiknya media meredam dulu, klo seperti ini ya saling banter saling gontok-gontokan antar pendukung. Dan bagi para pengamat politik pandai menilai pasangan Paslon tersebut.

Apa lagi di tambah para Paslon pilkada tersebut merasa paling mampu memipin negara atau daerah, banyak ngumbar janji, banyak teori, pandai diplomasi meskipun itu hanya sekedar untuk menarik agar masyarakat mau memilih "sayalah jadi pemimpin-nya".

Pertanyaan saya
Apakah janji janji paslon ini suatu syarat diterima manjadi pemimpin?
Apakah dengan menjawab pertanyaan semua bisa selesai ?
Apakah masyarakat sudah tak berhak memilih, sehingga yang menentukan pemimpin itu dari partai?
Apakah pemimpin itu harus di lahirkan dari partai?
Sumonggo di jawab dewe!
__________
Jogjakarta / Rabo / 15 / Februari / 2017
Lek son