SUFI MISKIN MENGHINA SUFI KAYA



Pada masa tabi'in ada seorang sufi kaya yang bosen dengan kekayaannya, maka sufi kaya ini berdoa pada tuhannya dan meminta agar di miskin kan, padahal tiap hari si sufi kaya ini hartanya sudah di sedekahkan pada semua orang, termasuk pada orang fakir miskin dan orang yang membutuhkan hartanya. si sufi kaya ini sudah capek menjadi orang kaya, tanpa sepengetahuan pegawainya, sufi ini pergi meninggalkan kekayaannya dan di biarkan apa bila pegawainya atau ada orang yang mau mencurinya. selama kepergian si sufi ini, pegawainya semakin jujur dan memegang prinsip agamanya, dan tidak mau menjadi pegawai yang jahat. 

Sebelum sufi ini pergi dan berpesan pada pegawai kepercayaannya, "kalau ada orang yang mencuri harta ini atau ada orang yang minta harta, kasihkan saja berapa yang di minta, dan bila ada yang mencuri biarkan saja, jangan di cegah dan jangan menuntut mereka, mungkin ada harta yang di sini yang tertinggal. maka pegawai staffnya langsung meng-iyakannya (bahasa jawanya Sendiko dawuh juragan) tanpa membantah sedikitpun, dan semua pegawainya melihat peristiwa itu dan mendengar perkataan si sufi kaya tersebut. 

Dalam pertengahan kepergian nya menjadi pengembara si sufi ini mimpi bertemu di datangi malaikat memberikan hadiah bejana (dandang ) yang besar yang terbuat dari emas, maka si sufi ini menjadi kaget yang luar biasa, dalam pemberian itu malaikat menyampaikan pada si sufi "Allah telah memberikan keberkahan pada hartamu dan semua keluargamu".

Maka si sufi tersebut langsung pulang ke rumah, di sambut dengan meriah dan pegawainya semakin ta'dzim. tanpa sadar ternyata hartanya malah semakin melimpah banyak dan pegawainya juga semakin banyak. setelah melihat peristiwa itu sufi ini bermusyawarah pada bawahanya dan juga para ulama' setempat waktu itu. 

Si sufi ini menceritakan mimpinya kepada ulama' dan para pegawainya, sehingga menyimpulkan bahwa "Wahai saudaraku bapak hasan, engkau ini di taqdirkan tuhan menjadi orang kaya yang bersyukur dan tidak tidak boleh menjadi miskin". 

Di sisi lain ada seorang sufi miskin yang menghina dan menjelekkan sufi kaya pada semua orang, tiap hari mencemohnya seakan akan sufi kaya ini tidak boleh makan enak, tidak boleh mempunyai rumah mewah dan kendaraan yang mewah. bahkan sufi kaya ini terkenal selalu melindungi masyarakat dan mengayomi ummat,  ke'aliman ilmunya dan kebaikan kejujurannya bahkan semua tokoh ulama' lain mengenalnya sampe masyarkat. 

Setelah di telusuri oleh sebagian ulama' lain si sufi miskin ini ternyata hatinya rakus ingin harta dan kekuasaan tapi tidak tercapai cita citanya. 

Lantas siapakah si sufi kaya tersebut? ........ beliau Adalah Syaikh abul-hasan As-Syadzali Rah alaih, juga Syaikh yang kondang dengan guru Thoriqoh  Imam syadzaliyah atau SULTONUL -TORIQOH.'
Sedangkan sufi miskin ini adalah tetangga nya imam syadzali atau bisa bilang sahabatnnya juga. 

Semoga dengan kisah tersebut kita sebagai santri atau orang mencari ilmu, jangan prasangka buruk terhadap Kyai atau Ulama' yang rumahnya mewah atau mobil mewah. Karena setiap hamba Tuhan mempunyai hubungan khusus terhadap Tuhannya sehingga kita tidak bisa menembus taqdir kekuasaan Allah. 

Boleh jadi orang yang di beri kekayaan melimpah karena sudah bisa mengatur dan cara memakainya, sehingga bisa mengantarkan kebaikan pada semua orang yang berada di sekitarnya.
Dan boleh jadi orang yang belum di beri kekayaan oleh Tuhan, karena mereka mempunyai sifat yang boros, takabur, rakus, ambis, tamak, sehingga menyebabkan benci pada orang di sekitarnya dan akhirnya menjauh dari Tuhannya. maka di situlah Allah belum mengabulkan doanya, kalau Tuhan mengabulkannya pasti akan mencelakakan dirinya sendiri. 
Ibarat anak kecil yang belum bisa menggunakan pisau, maka sang ayah melarangnya karena di khawatirkan akan mencelakai dirinya. 

Wassalam.
___________________________________________________________
Jogjakarta / Senin / 20 / Maret / 2017.
Lek son wong ndeso.
maroji' dari "Kitab Tarikhul Auliya'.
______________________________________
NB: dalam penulisan sejarah tidak boleh di sebutkan nama sufi miskin tersebut, karena ini menyangkut aib, makanya dalam Alqur-an atau hadist nama tokohnya di sembunyikan. seperti  ada lafal atau kalimat "Kana Imro'atan atau Kana Rojulan". 
tapi yang jelas hikmah tersebut yang kita ambil, bukan nama tokohnya. begitu kiranya.
wassalam.