OBROLAN SI DUL & SI BEJO TENTANG PESANTREN

Dulu ketika aku masih duduk di kelas tiga madrasah Tsanawiyah, aku sering di takut-takuti oleh seorang guru SPg, dia ngajar bahsa indonesia, namanya Bu .................... (rahasia donk) dengan dunia masa depan, dia selalu bilang anak didiknya dengan bahasa ceplas-ceplos, kalimat yang sering ini adalah;
"Kalau kamu bisa lanjutin sekolah ke perguruan tinggi, masa depanmu cerah, gampang cari kerjaan,
Tapi kalau kamu mondok ke Pesantren, kamu mau jadi apa? kan kiyai dah banyak, paling satu kampung cuma satu saja, sekarang aja cari kerja aja harus memakai ijazah sarjana" ungkapnya

Ada beberapa hal yang harus kita renungi kembali, dengan adanya pesantren, masayarakat indonesia masih mengenal yang di sebut denagn kearifan loka, baik yasinan, tahlilan, sholawatan, dan sejenisnya.

Kalau kita mau menengok negara-negara tetangga, tidak ada namanya budaya yang menyatukan masyarakat yang harmonis sperti di negri kita ini. di negri barat sana secara materi tercukupi semuanya, baik pendidikan, rumah tangga, belajar sampe 17 jam, akan tetapi mereka tidak mengenal adanya tuhan, mereka berangkat pagi di kungkung di dalam kantor industri, nanti pulang hanya istirahat di rumah, besok kerja lagi, jadi hidupnya hanya sebatas itu saja, mereka tak ubahnya seperti robot, di mainkan oleh para bos yang banyak uang, masyarakat barat hanya di jadikan mesin mencari uang, yang senang adalah pemilik industri. maka dari itu mereka ini kosong, kesepian tidak pernah mengenal ayat-ayat tuhan, bahkan sholawatan aja tidak kenal.

Di negara london ada seorang artis ternama namanya ........... lupa, dia setingkat tenar dengan mickl jakson, dia masuk islam karena mendengar nyanyian sholawat, akhir dunia artisnya atau karirnya di tinggalkan, tapi media tidak mengeksposnya. aja'ibkan! .....

Dari dulu perjalanan anak pesantren selalu di rundung kalimat remeh, seakan-akan anak pesantren di kucilkan, tak ada ruang untuk berbuat kebaikan, sehingga dalam masalah sosial aja, tak di hargai sama sekali.

Bagi saya gak masalah, kami belajar bukan mencari gelar atau pangkat atau mencari supaya di terima buruh pabrik atau di suatu lembaga institusi. walaupun seluruh kota atau negara menganggap anak pesantren, gak punya masa depan, gak bisa apa2 gak bisa cari kerjaan, itukan menurut mereka, toh kenyataannya selama ini hampir seluruh santri atau alumni santri, gak ada yang mati kelaparan, gak ada yang pengangguran, malah mereka sebelum pulang dari pesantren sudah di latih untuk mandiri berwira-swasta, dan di bai'at, jangan menggantungkan orang lain.
 

bersambung?.......
*************
Jogjakarta / Jumata / 4 / Maret / 2016.
Lek son bocah konyol