RUU PESANTREN DAN FULL DAY SCHOOL


Berlagak sok sebagai bapak, dengan mendatangi mengobok-obok madrasah dan pesantren untuk membuat RUU Pesantren tak ubahnya seperti ingin Merampas kurikulum atau membuat aturan dalam pesantren. Emang secara lahiriyah banyak positifnya, baik ingin membantu materi maupun dana sumbangan yang tak jelas dari mana datangnya. Namun secara batiniyah akan mempengaruhi dalam pendidikan anak yang di asuhnya.

Kalau saja pesantren sudah di atur oleh pemerintah, maka kebijakan dan kejujuran sang pengasuh mulai luntur, dan pesantren  akan berubah akan menjadi asrama aja, hanya saja di selingi kajian agama. Ini juga bisa di bilang penistaan terhadap pesantren.
Dari dulu pesantren berdiri gak ada campur tangan pemerintah, mereka di dirikan oleh masyarakat setempat, karena masyatakat percaya dengan seseorang yang di nilai mengetahui tentang pendidikan. Gt lah kiranya.

Dan selebihnya yang tersembunyi adalah untuk melebarkan sayap untuk memperbanyak jumlah pasar market Peluang mencari calon anak Didik baru, supaya semakin banyak anak Didik, juga semakin banyak sumbangan, baik sumbangan dari orang tua, dari Depag, maupun dari pemerintah, belum lagi di tambah uang syahriyah bulanan.. Kan bangian ketuanya bisa kebanjiran uang.

Lagi-lagi pesantren sebagai ajang untuk mencari kekayaan, meskipun ada sebagian pesantren yang masih tetap menjaga kesucian dan menjaga prinsip kepesantrenan.

Ini bisa di bilang pemerintah akan membekukan pendidikan pesantren, cuma dengan cara halus dan plastik. Saya bukan berarti tidak setuju dengan RUU Pesantren, tapi kita harus waspada dengan program pemerintah yang memberikan program atau ide yang masukkan pesantren. Karena mereka cemburu terhadap pendidikan pesantren. dan pelan-pelan terkikislah sistem dan adabiyah pesantren, meskipun dalam jangka panjang, dan efeknya akan terjadi pro dan kontra antar sesama lembaga pendidikan.

Bebarapa bulan lalu juga demikian, Mentri pendidikan baru duduk dua hari di meja kerja sudah membuat ulah dengan "Full Day School", gak ada angin gak ada hujan sudah membuat program tanpa mempertimbangkan sebelumnya, apakah pas dan cocok apa tidak, yang penting buat program. ini kan sangat lucu sekali.

Entalah aku perhatikan secara mendalam,  pendidikan manapun dari tahun ke tahu mengalami perubahan, program yang baru belum di laksanakan, malah sudah berubah lagi. Dan itu suatu hal yang wajar dan manusiawi, karena pada haqiqatnya setiap sesuatu akan mengalami perubahan, baik fisik maupun non fisik. Semuanya akan mengalami perubahan meskipun perubahannya Ada yang cepat dan ada secara lambat atau berubah sendirinya.

Geger muncul sistem pendidikan baru yaitu "Full Day School" . Aku gak tahu ini idenya sipa, yang jelas ini lah yang menjadi momok permasalahan pendidikan yang sekarang ini. Saya pun juga menyimak perkembangan dari artikel satu ke ke blogs lain, pro dan kontra menjadi hiasan, ada yang setuju dan ada tidak, ya begitulah .

Beberapa hari yang lalu, saya di tanyai seseorang untuk membuat opini yang tema seputar pendidikan. ya aku jawab dengan sante aja,
Full Day School tak ubah seperti merampok hak asuh
1)- Perampokan peran terhadap pendidikan orang tua, seluruh pendidikan seluruh dunia yang paling dahsyat pengaruhnya ada dari keluarga, khususnya Seorang ibu, jika seorang ibu sudah lepas dari anaknya, jangan mimpi anaknya akan baik sifat dan kepribadiannya.
Terus bagaimana jika seorang ibu bekerja menjadi karir, dengan alasan membantu ekonomi suami, atau perempuan janda yang kerja di luar negri, ini juga menambah bahan pembahasan yang amat panjang, karena masalah sperti ini sangat sensitif sekali bila di dengar oleh perempuan yang kerja di luar negri, emang ada banyak janda di tinggal suami, kemudian nekat mencari nafkah ke luar negri demi pendidikan anaknya di rumah yang di asuh oleh neneknya di kampung.

2)- Merampas hak hak pendidikan madrasah agama , khusunya di daerah desa perkampungan, karena biasa nya di perkampungan anak anak sekolah formal pulang jam satu , melanjutkan sekolah madrasah agama di kampung atau di desa masing², kepada kyai, ustadz, maupun guru TPQ, dan ini sudah berjalan bertahun-tahun.

Pada dasarnya sistem Full day Scholl adalah alternatif baru bagi orang ibu yang mempunyai profesi karir di luar rumah. Artinya ibu rumah tangga yang mempunyai pekerjaan di kantor yang pulang sore. ini sangat setuju, tapi jangan di gebyah uyah program ini di masukkan ke pendidikan. harus full day school. kalau ini di jalankan, maka ibu yang menjadi ibu rumah tangga yang mengurusi rumah akan merasa di rampok peran pendidikannya terhadap anaknya. ini bisa di bilang kejem lho.

Program full day scholl ini cocoknya di negara jepang.  dan tidak cocok di negara indonesia. atau bisa jadi ini program sengaja di buat untuk menjauhkan antara anak dengan orang tuanya dalam malasalah pendidikan. kalau ini bener, wah berarti lumayan juga program ini. hahahhaaaaa

____________
Jojakarta  2016
Lek Son wong ndeso.