DULKEMIN MINTA DUWIT


Ketika sore menjelang malam, anak-anak perkampungan dah mulai persiapan untuk mengaji di masjid, suara anak dusun pelosok yang jauh dari perkotaan, ke'arifan budaya lokal saat itu masih kental dengan kemesraan hidup.

Suasana yang sangat bahagia mewarnai suatu perkampungan, di mana parasati sejarah anak-anak sedang belajar begitu nampak kesunggugannnya. semuanya akan membentuk kepribadian nanti setelah dewasa kelak.

Hajaunya rerumputan dan pepohanan, menjadi ajang bercanda, bermain di bawahnya.
Hawa dingin menjadi nafas lega ketika angin sepoi-sepoi menghampirinya.

Suara terdengar dari anak petakilan bernama Dulkemin dengan wajah memelas meminta permohonan pada ibunya.
Dulkemin: Mak! mengko bengi aku arep turu ning mesjid karo konco-konco sekalian belajar bersama, aku jaluk duwite 50 kanggo tuku obat nyamuk baygon. ning mesjid nak bengi jingklonge akeh.
IBUnya menjawab; Owalaaaaah nang cag bagus, rasah obat nyamu'an, rupamu ra pantes obat nyamu'an, wong ndeso wahe aneh-aneh, pakanan mu telo, rasah petakilan, ungkapnya ibunya sambil sedikit senyum.

DULKEMIN: Mak! mosok mung 50 wahe ra nduwe,
IBUnya: Akeh Lhe, kae podo sing kemricik, suarane banter, jipu'en dewe yo, Ning ngisor GENTONG,

DUKEMIN: Ma'e ki di jaluk'i duwit, malah guyu mesem.
IBUnya : Wis to Lhe, rasah bingung, nak pingin turu ora cokot nyamuk, Golek'o GACENG garing, (kembang Kluweh) di sumet, kuwi gantine obat nyamuk, malah ora tuku, ora boros ngentekke duwit.  kata ibu dengan suara nyletus cekiki'an sambil petan rambut di depan rumah.

Dulkemin hanya diam saja, tangannya sambil garuk-garuk kepala,
---------------------------------------------------------------
Kepiye menurutmu konco-konco? ......
di coment dewe yo, ojo guyu dewe, mengko malah di kiro .......... anyaran.