SANG PENGEMBALA




Pengembala bahasa arabnya adalah “Ro’in” atau (Orang yang mengembala). Sedangkan kata rakyat itu berasal dari bahasa arab yaitu “Ro’iyatun” yang di indonesiakan supaya mudah di ucapkan dengan sebutan rakyat. Begitulah kiranya.

Pernah dengar bahwa semua Nabi dan Rusul adalah pernah menjadi pengembala kambing. Dan mungkin kita akan betanya-tanya tentang kenapa para nabi-nabi masa kecilnya mengalami menjadi pengembala kambing!

Kata pengembala itu sendiri arahnya pada binatang kambing bukan pada binatang lain, emang di sisi lain ada namanya pengembala kerbau atau pengembala sapi, tapi kalau di lihat dari sejarah pengembala para nabi terdahulu adalah binatang kambing. Karena ini menunjukkan bahwa yang di kembala adalah binatang yang banyak, bisa jadi puluhan dan ratusan.

Ohya pembaca yang budiman!
Ada beberapa peristiwa penting yang harus kita renungi, saya sih gak punya kambing, tetapi dulu pernah ikut membantu temen saya menjadi pengembala (angon) kambing, ketika kita menggiring kambing di perkampungan, ini pasti ada kambing yang selalu memakan daun-daun daun di kebun tetangga, saat saya melihat, saya langsung lari, mengejar dan mencegahnya dengan memakai pecut, ketika di cegah, ya nurut aja, tapi besok nya lagi juga demikain, sampe yang punya kebun itu marah-marah, karena daun singkong milik tetangga di habisin ama kambing, dan yang di salahkan bukan kambingnya, tapi yang di salahkan adalah sang pengembala kambing.

Menurut beberapa penelitian saya, bahwa binatang kambing ini mempunyai sifat yang sulit di atur, sulit di kendalikan, dan sulit di taklukkan. Emang binatang kambing ini jinak, tidak menyakiti dan tidak menakutkan. Karena binatang ini sangat unik dan tidak bisa di tebak. Kalau gak percaya cobalah menjadi pengembala kambing, hehehehe

Makanya dalam sejarah dunia sirkus, tidak ada yang berani memainkan dengan binatang kambing, semua binatang bisa di takhlukkan oleh manusia yang ahli dalam watak dan karakter binatang (pawang). Binatang harimau yang menjadi raja hutan yang terkenal menakutkan, ular cobra yang banyak racun, bahkan semua binatang bisa di takhlukkan manusia, dengan di pamerkan bermain, ajang sirkus dunia, akan tetapi untuk binatang yang satu ini, tidak mudah di tahklukkan.  Kalau gak percaya buktikan saja.  ajak saja kambing di pentaskan di panggung sirkuit, kemungkinan besar ya manut, tapi malah diam saja, pawange sampe mangkel, penontone cekiki'an. hehheee

Sebenernya ini adalah pendidikan tarbiyah dari allah yang berikan kepada para nabi-nabi, begitu juga dengan nabi akhir zaman, sebelum nabi Muhammad di angkat menjadi rosul, masa kecilnya didik cara mengembala kambing. Sehingga nanti sesudah menjadi rosul pemimpin ummat, sudah terbiasa dan bersabar menghadapi ummat yang sifatnya seperti kambing, manut, tapi ngeyelan, itulah sifat manusia.

Makanya hampir seluruh sistem pemerintahan indonesia yang masa itu kalimatnya adalah menggunakan bahasa arab, seperti kalimat MPR, itu juga dari bahasa arab juga. Majlis Perwakilan rakyat itu artinya Tempat duduk, bagi para wakil Rakyat. Dan yang namanya wakil, harus taat pada orang yang wakili (rakyat). Kalau rakyat gak mau di wakili, ya jangan memaksa atau mengancam. Kalau kita dapat undangan kendurenan, sementara kita gak bisa hadir, kemudian minta orang untuk mewakili, maka wakil tersebut, harus menuruti keinginan juragannya. karena wakil ini di bayar oleh juragannya. sudah di bayar, nanti setelah mewakili hadir, berkatnya bisa di bawa pulang ke rumah juragannya, belum sampe rumah, eh malah di titili wakilnya, alias di untal dw. hehehehe
 
Dewan Perwakilan Rakyat, itu sebenernya berasal dari bahasa arab yang di indonesiakan, Dewan itu artinya catatan, wakil adalah orang yang menerima amanah dari juragannya. kemudian di indonesiakan atau di tambai kalimat "Per dan an" , menjadi Perwakilan,  yitu menjadi banyak, dan Rakyat itu juga  bahasa arab juga dari Ro'iyatun.

Nah yang terjadi sistem pemerintah sekarang ini sudah gak karuan, malah wakil hobi menggusur rakyat, padahal rakyat yang membayar para wakil dan para pejabat. seakan-akan pemerintah ini berkuasa, merasa membantu rakyat, padahal gaji uang makan pejabat dan pemerintah adalah hasil dari rakyat, sementara rakyat tidak pernah mengemis pada pejabat pemerintah. kalau seandainya ada pejabat merasa menurunkan bantuan uang, baik pembangunan atau ekonomi di desa-desa setempat, itu pada sebenernya bukan bantuan dari pemerintah, tetapi mengembalikan uang rakyat. kira kira begitu, hehehehe
 
------------------------------------------.
Jogjakarta / sabtu / 23 / April / 2016
Lek son wong ndeso