JERITAN HATI SANG PEMULUNG KECIL


Sahabat pembaca yang budiman!
Mungkin kita pernah melihat anak-anak yang umurnya masih dalam belajar, saat berangkat sekolah dengan memakai tas rangsel, baju bagus, bersih, dandanya sangat menarik hati bila di pandang semua orang, tentu kita sebagai orang tua pasti dan pasti akan merasa bangga san senang dengan semangat anak-anak sekarang, kelak akan membawa harum nama bangsa dan negara, sekaligus sebagai generasi penerus dari masa kemasa yang akan datang. dalam hati kita akan merasa tersenyum dan senang sekali. 

Sementara di sisi lain kita juga melihat anak-anak kecil yang membawa kantong sampah, mereka bukan tak mau belajar, tapi karena tuntutan hidup demi menghidupi kebutuhan hidupnya. mereka berjalan menyusuri pinggiran jalan raya sambil percaya dirinya mengantongi bekas-bekas sampah yang berada di sekitar jalan raya, mereka tersenyum bila melihat tong sampah yang dia sangka ada sesuatu yang di ambilnya.
Terkadang anak-anak ini bersedih jika satu hari tidak menemukan sesuatu apapun, kadang makan apa adanya, kadang anak-anak ini juga harus menahan makan satu hari, karena belum layak untuk di setorkan pada juragannya, sesekali dia dapat sesuatu, upahnya terkadang tidak se'imbang dengan jerih payahnya selama satu hari di siram panasnya matahari.
Badannya kurus sperti kehilangan kebahagia'annya, senyumnya yang di dapatkan dari keluarganya, di rampas oleh kemiskinan ilmu dan kemiskinan pendidikan, wajahnya hitem kusam, kulitnya penuh dengan bau keringat, tak perduli siapapun bila ada orang yang mencemohnya. 

Apa yang ada dalam fikiran kita?..........
Pelajaran apakah yg bisa renungi?......
Bagaimana jika terjadi pada mu? .....
Sanggupkah kita memberi santunan pada anak tersebut?........
Siapakah yang berani pertolongan kepada mereka? ......


Bagaimana pendapatmu tentang fenomena ini. 
kalau kita melihat kekayaan alam di negri kita, sangat kaya dan melimpah ruwah. akan tetapi kenyataannya, masih banyak saudara kita, adik-adik kita yang belum mendapatkan santunan yang layak untuk mereka, baik pendidikan. semuanya seperti di rampas oleh para penguasa dan pengusaha jahat, rakyat selalu di jadikan umpan untuk mencari kekayaan, rakyat kecil selalu teraniaya. 
mereka datang menyantuni di saat pemilu tiba, seakan-akan seperti bapak yang mau menolong, tetapi setelah usai pemilu, menghilang pergi entah kemana.

Mimpi-mimpi indah bagai fatamorgana
Lautan tangis anak bangsa hampir setiap masa
Pertumpahan darah antar sesama kian meraja-lela
Sifat persaudaraan dan keadilan sudah tak lagi terlaksana.
Sifat kasih sayang kita terhadap sesama dah kian menipis.

Bagaimana menurut kita semua wahai saudaraku ?
________________
Jogjakarta / Selasa / 19 / April / 2016
Lek son wong ndeso
----------------------------------------------------------