MENGUPAS TAFSIR ALIF, LAM, dan MIM.


Masih ingatkah materi maiyah pada hari selasa malam Rabo tanggal 17 / November / 2015 di taman tirto, kasihan bantul.suasana yang menyejukan bagi seluruh penggiat MS agaenda bulanan. ini menjadi memetum yang di tunggu-tunggu oleh anak anak maiyah nusantara.

Ada pelajaran tafsir kemaren di tanyakan CN kepada temen2 maiyah, yang sebelumnya di baca oleh temen yang kebetulan di suruh maju naik kedepan panggung untuk membacakan surat Al-baqoroh, 1 sampe 5 ayat, klo gak salah, setelah selesai membaca CN memberikan tanggapan kepada jamah maiyah tentang kalimat pertama yaitu; "ALIF, LAM, dan MIM,

Untuk menafsiri menurut pemahannya. akhirnya tanggapan itu di berikan kepada jamah maiyah, sehingga beberapa anak menjawab itu
ALIF itu artinya ALLAH
LAM itu artinya La-ILAHAILLALLAH
MIM itu Artinya MUhammadur-Rosulullah,

Kemudian CN juga bertanya lagi, bagaimana dengan Alif , Lam dan Ro', mereka menjawabnya dengan sama, cuma bedanya Ro'nya di artikan Rosulullah, mendengar jawaban itu, CN hanya ketawa, iki nak teruske sampe Ya' Sin, kepiye hayo,! mendengar perkataan itu, jamaah maiyah pada ketawa semua,
Selanjutnya CN menyerahkan jawabanya pada pak KH Ahmad Muzammil, dengan jawaban tafsir sesuai dengan ilmu tafsir tersebut, yaitu Alif, Lam dan Mim itu Wallahu-A'lam Bimurodihi, artinya hanya allah lah yang tahu, begitu kiranya. meskipun CN sendiri sudah tahu jawabannya, aku yakin CN hanya ingin memancing supaya jama'ah untuk sinau, berfikir, dan lebih belajar lagi untuk mendalaminya.

Ohya temen-temen! saya juga tidak tahu artinya Alif, Lam dan Mim, akan tetapi saya akan memberikan jawaban, dan itupun jawabnku belum tentu benar, hanya saja saya akan menyoroti dari berbagai buku-buku sejarah alQur'an di turunkan dan Alqur'an ketika di bukukan.

Dalam kitab tafsir Ibnu katsir, surat-surat yang di Awali dengan huruf hija'iyah seperti NUN, TOHA, ALif lam dan Mim dan sejenisnya klo tidak salah ada 29 surat.
Dalam penurunan Asbabun-Nuzul itu malah gak ada, huruf itu ada setelah musyawarah para shohabat, yang di pimpin oleh Usman, zaman abu bakar sudah ada, tapi masih berbentuk mushaf biasa,
Kalimat itu menurut sastra arab di sebut SULUK, fungsinya untuk memperindah kalam / bacaan. makanya dalam alqur'an tidak ada tafsirnya, semua tafsir, dari tafsir jalalain, T Munir, sampe ibnu katsir, hanya Wallahu A'lam Bimurodihi".

Karena setelah suluk di situ ada "Isim Isyaroh" ada TILKA, ada DZALIKA, atau nama petunjuk sesuatu, dan juga temen2 bisa di cek dalam ilmu nahwu shorofnya.
Pada masa kholifah Umar sudah terkumpulkan dan juga hanya saja copian dari mushaf abu bakar, makanya di sebut mushab abu bakar.
Akhirnya pada Ustman menyuruh zaid bin tsabit, sebagai juru tulis, zaid bin tsabit ini adalah anak yatim, tsabit adalah meninggal ketika perang badar, pas menjelang perang uhud, ibunya zaid (istrinya tsabit) sowan ke Rosulullah, agar di perbolehkan untuk ikut perang uhud, waktu itu zaid bin stabit umur 10 tahun,
Di saat ibunya zaid menyowankan kepada rosulullah, ibunya juga memperlihatkan tulisan ayat alqur'an yang di tulis oleh tangan zaid, sehingga rasulullah terharu sambil mengelus kepala zaid dan nabi mendoakan semoga allah memberkahimu dan tulisanmu,

Singkatnya Rosulullah melarang, karena zaid mempunyai tulisan yg bagus dan suara yang indah, dan itu di saksikan banyak sahabat dan menyaksikan tulisan zaid, setelah dewasa, semua sohabat sepakat menunjuk sebagai juru tulis Alqur'an. sementara Muad bin Jabal di tugaskan untuk mengumpulkan seluruh sohabat muda yang hafid alquran seluruh dunia, untuk datang ke-Madinah khusus untuk musyawarah membahas pengumpulan wahyu allah.

Setelah di tulis, juga masih di pertimbangkan, karena masih ada pembagian juz, dan juga membahasan tentang bacaan yang berbeda di kalangan sahabat, iki jeh dowo maneh je

Untuk pembagian juz ini dulu juga di ada shahabat namanya klo tidak salah, Abdullah bin Umar, yang sowan kepada nabi untuk menaskhih bacaannya, setelah selasai di sima' di dengarkan nabi, rosulullah berpesan kapadanya, bacalah Al-Qur'an selama satu bulan, maka ini lah yang menjadi rujukan musayawarah memperkuat bahwa jumlah pembagian juz menjadi 30 juz, karena beberapa pendapat ulama' shohabat menyimpulkan bahwa pada generasi umat akhir zaman bisa di baca satu hari satu juz, klo masa sahabat 1 hari bisa khatam, akan tetapi pada masa berikut dan berikutnya bisa di katakan mudah, dan bisa di katakan repot juga. mudah bagi yang hafid qur'an, berat bagi anak muda zaman sekarang, seperti aku ini, aku aja satu hari kadang blas ora moco, astagfirullahal-Adziiiim.

Pada masa sahabat tulisan Alqur'an bbelum ada ada harokat dan titiknya, muncul harokat dan titiknya itu setelah zaman hasan basri, yaitu muridnya memberi tanda bunyi makhroj, supaya mudah di hafalkan oleh generasi ke generasi.

##################
Nb; klo salah di benerkan ya? ........ iki sejarahe dowo banget, nak tak posting dadi makalah
hehehehehe
Jogjakarta / Rabo / 18 / November / 2015
Lek-MuhSon bocah konyol
$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$