ANAK MAIYAH dan GURU MAIYAH


Di kalangan para seniman dan budayawan, bahkan politikus menyebut MH
Di kalangan para tokoh NU dan pesantren menyebut KH Ainun-Najib
Di kalangan para masyarakat luas baik rakyat kecil menyebut Cak-Nun
Di kalangan negri nuswantoro di sebut Jaka Umbaran
Di kalangan orang Maiyah menyebutnya sebagi sang guru

Bagaimana menurut pandangan temen-temen maiyah? ……. Tidak harus di jawab. Hehehe
Tapi di renungi sambil di coment, gitu, hehehehee…….

Ohya temen-temen maiyah! saya kira kita gak usah mikir pandangan masyarakat atau apalah gitu, itu hanya panggilan seseorang, terserahlah mau memanggil apa. yang jelas kita sebagai murid mengerti dan memahami apa yang kita peroleh ilmu-llmu maiyah selama ini. Kita sudah banyak di beri masukan benih2 atau biji ilmu kesadaran hidup, yang tunasnya sudah mulai muncul, tinggal kita menjaga, dan merawatnya.

Mungkin kita semua pernah melihat peristiwa atau kejadian nyata di kalangan masyarakat, kalau kita perhatikan, di kalangan desa, kampung maupun perkotaan, semua aktifitas keagamaan, baik pengajian umum maupun pengajian local kebanyakan usianya ya 50 tahun ke-atas, dan ada yang anak usia TK , SD, dan SMP itupun kadang di paksa gurunya untuk mendengarkan pengajian. Mungkin semua pengajian sekarang ini mungkin yang hadir katakanlah orang lokal atau masyarakat setempat, itupun usianya tua, dan paling banter yang datang ibu-ibu, pemudanya yang datang jadi panitia, selain panitia pada sepi menghilang. Ya to!? Hehehe

Coba bayangkan! untuk acara maiyah ini, di namakan pengajian juga bukan sperti pengajian, di sebuat tidak pengajian kok nyatanya yang datang sebagian santri dan ada tokoh Ulama’ setempat, ada yang datang laki-laki pake anting2, tatonan, memakai gelang, ada yang datang pake celana pendek, di depan panggung sampe mepet pas di hadapan caknun, sampe caknun tersenyum melihatnya. ya beginilah dan itulah pengajian maiyah, yang berbeda di antara yang berbeda.

Apa lagi kalau pas caknun bercanda bilang, “iki gento-gento teko songko ngendi”? Saat itulah suara menggema tertawa lebar bersamaan ger-geran, suasana semakin asyiiiik, seperti adem rasane hati, mungkin kalau orang belum mengenal caknun, pasti akan berprasangka buruk, tapi bagi anak maiyah, itu suatu untuk menghibur kita semua, supaya kita melatih menjelek-jelekkan diri sendiri, dari pada menjelekkan orang lain, ya gitu lah kiranya, heheheeee….

Yang lebih mengejutkan lagi adalah ada anak muda mahasiswa mau berpacaran, tapi di ajak kencan untuk menghadiri pengajian maiyah, mendengar pengajian caknun, 2 minggu kemudian, si laki-lakinya langsung datang ke rumah orang tua, untuk melamar anak perempuannya.

Sebagian besar acara maiyah yang datang gento-gento, mahasiswa, sampe ada dosen, bahkan ada tokoh aparat yang ikut mengaji mendengarkan kajian caknun. Dan semua itu datang ke acara maiyah dari luar daerah, meskipun harus naik kendaraan 2 jam atau 3 jam lebih, dan semua itu ia datang dengan nurani yang dalam, kesadaran hati, semua itu bukan paksaan semata dan juga bukan rekayasa.

Malah ada sebagian gento maiyah bilang; “Aku harus di depan, harus dekat dengan panggung, biar bisa faham betul, bisa melihat simbah caknun, dan bisa sungkem berpelukan, dapat berkah doanya, siapa tahu nanti dengan berkah doanya saya bisa taubat, dan menjadi manusia yang bener-benr manusia”. Ungkapnya!

Sebagian temen lagi mengatakan, Mereka datang ke acara maiyah di antaranya adalah karena mereka sudah Lelah dengan retorika hidup yang selalu mengarah keserakahan, jenuh dengan kenakalan, sehingga tak tahu arah tujuan hidup, maka dia datang ke-maiyah berguru, dengan harapan bisa berfikir sehat, mengetahui tujuan hidup, kehalusan budi, etika di dalam masyarakat, agar hidupnya selalu di hiasi dengan sifat-sifat penghormatan antar satu dengan yang lain, martabat keluarga, dan bisa merubah diri, bertahan sabar dari kungkungan pemerintah selalu mengajak kerakusan materi.

Nak menurut pendapatmu kpiye poro sedulur maiyah? …………

*********************************

Jogjakarta / Senin / 27 / April / 2015.
Lek muhson Wong ndesoooooo