GURU ADALAH ABU RUH

GURU adalah GURU.
GURU Bukan BABU
GURU bukan TUKANG SAPU
GURU adalah tongkat yang menunjukkan jalan kebenaran menuju TUHANKU  
 

Kalau guru ya guru, jangan tanya gaji, menurutku gitu, kalo pun jadi guru dosen, terus di kasih uang 100 ribu perbulan, itu bukan gaji, tapi itu adalah bisyaroh atau Idkholus-Surur,
Dan satu hal yang harus garis bawahi, guru itu bukan profesi,

Mungkin kita masih ingat kata-kata cak-nun di maiyah-maiyah yang yang sudah lampau, simbah mengatakan "GURU itu ANUGRAH TUHAN. artinya yang memberi gelar langsung allah swt.

Kalimat itu aku memahami dan aku terjemahkan demikian
bagaimana di sebut guru sementara menerima gaji, padahal gaji itu ber-awal transaksi untuk seorang yang bekerja cari uang, klo jadi guru minta pamrih gaji uang, berarti itu suatu pekerjaan, terus apa bedanya dengan tukang becak?, hanya bedanya beda seragam dan sepatu, hehehehehe

Kalau kita mau cari uang buat nafaqoh untuk anak istri, ya jangan jadi guru, jadilah buruh macul aja, seandainya kita mencari uang nafaqoh dengan menjadi guru, itu namanya menyusup/ menyamar, kayaknya gitu,

Masih ingatkah dalam kitab "Ta'limu-Muta'allim" guru itu seperti ABU-Ruh, sprti dokter, kata Imam Syafi'i; "(Jika allah memberi kakayaan keberkahan ilmu pada seseorang, maka tertutuplah menjadi orang kaya)". karena guru bukan hanya mentransfer ilmu teori dan informasi, tapi juga mentransfer etika/ akhlaq yang bagus, sopan santun dan unggah-ungguh, terhadap orang tua, guru dan sesama manusia, yang bisa memberi manfaat bagi semua ummat manusia.

Kalau dalam kita Ta'limul Muta'allim, satu huruf ilmu yang di ajarkan kepada muridnya sampe paham, maka si murid harus menghadiahkan uang 10 dinar (uang terbuat dari emas),
10 dinar adalah 100 on emas,
1 on emas adalah 10 gram emas
1 gram emas nilainya berapa? ................ jumlah dewe. ? .................

Kalau seandainya guru hanya sekedar mencari uang/ nafaqoh aja, berarti harga dirinya sama dengan uang di terimanya setiap bulan. Karena jika dosen / guru mengajar dengan syarat embel-embel tarip per-jam,
maka semua anak didiknya akan mempengaruhi nanti di hari kedewasaan dalm bercita-cita.
Di antaranya adalah:
1- anak didik Akan berubah cara berfikirnya
2- anak didik Akan kerdil mental dan kepribadiannya
3- anak didik Akan di tuntut cara mengajarnya
4- anak didik Akan mudah marah/ demontrasi bila ada guru/ dosen kurang profesional
5- Nama guru /dosen tidak di kenang di hati para anak didiknya dari generasi ke genarasi berikutnya sampai mati
6- anak didiknya kalau dewasa dah jadi guru akan mengharapkan imbalan dengan kata2; " aku dulu belajar juga bayar, maka saya mengajar harus mahal juga, dan seterusnya
7- anak didiknya tidak punya sopan santun ataupun ramah-tamah dan unggah-ungguh
8- anak didiknya akan berfikir, dengan ungkapan; "yang penting saya belajar juga bayar, dosen gak usah mikir jauh2 tentang etika saya, mau hamil, mau pacaran itu bukan urusan guru/ dosen, yg penting saya rajin"
9- dosen akan mudah di suap dengan uang, bila si anak didiknya nakal/ nilai nya C, untuk di naikkan nilai menjadi A.
10- si dosen / si guru akan di laporkan/ di singkirkan bila anak didiknya tidak suka dengan gurunya, kepada ketua guru, dll

*********************
NB: jika temen2 tersinggung, saya minta maaf, dan saya tidak bermaksud mengkritisi orang berprofesi, akan tetapi itulah haqiqatnya seorang guru, dan maksud di atas bukan sebagai pendidik sprti SMP dan SMA.

Jika merasa tersinggung, maka anggaplah sebagai jamu, yang pahit di lidah/ panas di telinga, tapi akan bermanfaat setelah di minum dan rasakan kesembuhannya di dalam ruh badan dan keimanan sebagai guru yg baik,

Saya kira jenengan sudah tahu maksudnya, kalau zaman dulu ada SPG, sarjana pendidikan guru, tp sekarang sudah berubah menjadi SPD,/ sarjana pendidikan, kan itu dah jelas, klo zamanku di sebut murid, sekarang berubah menjadi siswa, pelajar/ mahasiswa.
MA BAINA MURID WA SISWA, PELAJAR, MAHASISWA?
MA BAINA GURU WA PENDIDIK, DOSEN, DOKTOR?

Di renungi dewe jawabane njeh?
NB ; Bila ada kalimat / kata yang salah di benerkan ya!
Salam maiyah .......

JOGJAKARTA Rabo / 18 / Maret / 2015.
Lek Muhson wong ndusun
**********************