NEGRI BERAS DI RAMPAS PENGUSAHA GELAP


Mana ada negri sekaya negriku
Mana ada negeri yang bisa menanam padi seperti negriku
Mana ada negri surga seperti negriku
Mana ada beras terbaik seperti beras negriku

Hari ini timbul masalah baru di kalangan masyarakat jelata, lagi-lagi sasaran empuk menjadi korban, rakyat jelata yang tiap hari sabagi petani menanam padi yang menghasilkan beras yang melimpah ruah kini menjadi bahan omongan para pengusaha gelap.

Ohya! Tahukah selama bertahun-tahun kekayaan kita di sedot oleh pengusaha gelap?
sebut saja BERAS, meskipun rakyat kecil dan pedagang eceran megelus dada. Akan tetapi apapun bentuknya rekayasa pengusaha beras selalu melirik hasil panenan petani negri kita.lagi lagi pedagang beras eceran menjadi korban. Waduh kasian bangeeeet je! ...

ini baru masalah harga beras, belum pupuk, belum harga cabai, harga bawang merah dan bawang putih, Harga kedelai, Semuanya menghantui dan membayang-bayangi pedagang eceran.

Pada beberapa tahun lalu Dulkemin telah meneliti berbagai macam perdagangan atau pengusaha, baik sistem permainan harga beras maupun harga pupuk yang selama ini menjadi polemik rakyat kecil yang tak kunjung selesai.

Selama ini hasil panenan yang di keluarkan rakyat negri petani, kuwalitasnya sangat bagus dan memuaskan, karena setiap panenan padi hasil pengeringannya di jemur , setelah kering bisa di buat benih, jika di masak rasanya kenyal, warnanya seperti mutiara yang mengkilat menggiurkan, jika makan ama sambel aja dah enak bangeeeeeet, tanpa harus pake sayur.

Maka dari itu para pengusaha dunia dan pengusaha gelap meliriknya, karena padi atau beras yang di tanam petani indonesia akan di timbun dan di bawa oleh pengusaha asing, dan itu harganya 10 kali lipat harganya. Itu sama aja tukeran barang di mana beras indonesia di boyong di luar negeri dengan harga emas, sedangkan pengusaha asing mengirim beras ke indonesia mengasih beras dengan harga sampah. Ya begitulah kiranya.

Sedangkan beras yang di hasilkan oleh petani luar negeri itu hanya beras sampah yang di campur dengan obat pengawetnya sebut saja “Ras-Kin” atu beras miskin, itu sebenernya beras di luar sudah gak laku di negaranya, karena sebelum jadi beras, pengeringan memakai mesin pemanas dan hasilnya mateng separo, tidak bisa di buat benih. Klo sudah jadi beras, di masak rasanya kapes2, gak enak, kayak anyep2 ada keringatnya, mudah basi.

Lantas siapakah yang bertanggung jawab semua ini?
Semua itu pasti dan pasti ada campur tangan dari pihak pemerintah, yang sengaja mempermainkan harga, dan kerjasama antara pengusaha gelap/ mavfia dengan pemerinta indonesia, dan proyek ini akan menguntungkan para dewan perampok rakyat, dengan alasan Paceklik, lagi-lagi orang miskin menjadi korban.

Saya kira kita sebagai rakyat kecil gak usah terlalu pusing banget dengan peristiwa atau fenomena naiknya beras/ pupuk, kan kita dari dulu stiap tahun akan muncul masalah baru, katanya sih sudah Kebal dengan masalah, meskipun nanti di rumah, ya sedikit Dongkol di tenggoro’an, dan medekel di hati, tp itu wajarlah sebagai sifat manusiawi. Hehehehe

Bukan kah kita sebagi orang kecil selalu berpegang prinsip, walaupun prinsip itu bukan dari kalangan Akademisi, tapi paling tidak untuk bisa menghibur diri, ya terus gimana lagi,
kita ngeluh juga gak bisa merubah suasana,
kita marah juga mau marah ama siapa,
mau lapor DPR atau pemerintah, mereka juga terlibat memainkan harga.
Mau minta bantuan ama polisi! Mereka juga gak mau kerja klo gak ada amplopnya.
Mau kirim surat ama jokowi, gak bakalan di gubris bro, mereka juga “TKI” alias Tenaga Kontrak Indonesia, meraka di kontrak hanya 5 tahun, setelah 5 tahun, ya emboooooh. ya to! Hahaha

Ohya lupa! Satu lagi yang harus saya sampaikan, barusan saya berdiskusi ama Pangeran Dulkemin yang baru selesai dari semedinya, dia mengatakan; “Tidaklah negara ini sempit karena harga beras naik, Akan tetapi negara bisa sempit karena rakyatnya gak punya pegangan prinsip”

Kita sebagi rakyat jelata tidak tahu persis apa permasalahannya, yang jelas inilah potretnya. Meskipun sejarah dunia tidak mencatatnya, akan tetapi negeri rakyat jelata menulis dalam hati di prasasti lautan memory, semua ini akan di kenang oleh generasi berikutnya nanti.

***************************************************

JOGJAKARTA / Minggu / 22 / Februari / 2015
Mamase Muhson Arrosyid, wong ndesoooo

**************************