IBU PETANI BERCANDA DENGAN SANG PUTRANYA

Di sini aku di ajari berbagai macam kehidupan,
Di ajari bermain, ndaut, tandur dan matun, bercanda mesra bersama tetangga, di atas tanah lumpur dengan kerbau yang ngeluku (nGGARU) sambil menyanyi di tengan persawahan yang begitu menyengat panasnya matahari ketika di atas ubun-ubun, 

Kata ibuku, "Menjadi seorang petani kampung itu tidak mudah, butuh kesabaran, dan butuh penghayatan bertahun-tahun, kalau kamu belajar sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, Kuliyah 4 tahun, jumlahnya katakanlah 16 tahun, itupun kadang-kadang masih seperti kanak-kanak, akan tetapi Nak dadi  petani harus membutuhkan waktu seumur hidup, mengapa demikian

Karena jiwa dan karakter seorang petani bisa mensekolahkan atau bisa menghasilkan anak-sarjana, anak yang berfikir lebih dewasa, sedangkan orang sarjana tidak bisa menghasilkan sosok seorang petani, karena sekolah jaman sekarang di didik, dan di desain menjadi buruh kerja yang di iming-imingi dua lembar kertas ijazah yang di bungkus supaya memajukan bangsa, padahal itu semua hanyalah omong kosong belaka. Apa gunanya kamu sekolah tinggi-tinggi, pa bila kamu gak bisa menyenangkan bapak lan ibumu, kluargamu, koncomu, orang di sekitarmu.

Le Son Anakkku! "tujuan sekolah kuwi, ora golek duwit, ora golek rupo, ora golek pangkat dengan berdandan rapi memakai sepatu, mentereng gagah, itu tidak, semuanya adalah sifat sementara, tp sekolah itu supaya kamu tahu jadi orang, bisa menghargai orang, tidak meremahkan orang.
Rungokno ibumu Cah bagus dw Anakku, kamu mau menjadi guru, dosen, Ustadz, kyai, Lurah, atau pejabat, semua itu gak penting bagi ibu, itu hanya simbol. aku ora Kolu duwitmu, aku ora bangga karo cita-citamu,
dan yang penting bagi ibu lan bapakmu adalah ketika kamu bekerja, di manapun berada, km bener apa tidak? ......       bohong apa tidak? ...........     khianat apa tidak?....,....       menyusahkan orang lain pa gak?.........       menyakiti orang lain apa gak? ............       inilah yang menjadi pertanyaan ibu nak!

Stelah mendengar kata-kata dari ibunya pangeran itu matanya meneteskan air matanya, hatinya gemeteran, saat itulah pangeran itu bangkit dari kenakalannya. dan pergi mecari keluhuran budi, di negri sebarang.
kisah ini sekitar tahun 2007 yang lalu, waktu itu pangeran di ajak ke sawah untuk memetik hasil panenan padi selama 3 hari berturut-turut (hari senin, selasa, dan rabo) tanpa di mengundang pekerja tani,
Bagaimana menurutmu konco-konco? ..........

***********************************************************
Jogjakarta / Jum'at / 24 / April / 2015
Kang Muhson wong ndesooooo