SERIBU SEJARAH SANG GURU DI MADRASAH DINIYAH & IBTIDA'IYAH. "MIFTAKHUL-ULUM" DI DESA LATAK, Kec GODONG Kab, GROBOGAN.


Desa yang di kelilingi mata pencaharian jagung dan kedelai orang desa
Desa yang tertutup sungai dan sawah
Desa yang di lintasi kereta api surabaya ke jakarta
Desa yang paling unik dan lucu di di antara seluruh negri nuswantara


Madrasah melambangkan keaneka-ragaman para petani jelata
Madrasah yang melukiskan sejuta prahara keluhuran etika
Madrasah yang mengantarkan jiwa pemuda untuk malanjutkan perjuangan gurunya
Madrasah yang melahirkan generasi putra-putri ratusan hafid dan hafidhah

Seribu kenangan yang menggoreskan daya ingatan sang pangeran
Seribu lucu campur kedamaian yang di balut kenakalan orang desa
Seribu cerita yang membuka memory di saat di perantauan
Seribu tetesan air mata yang menggetarkan jiwa di kala masa dewasa

Aku masih ingat ketika aku juara 2 lomba karung
Aku juga masih terngiang ketika itu masih duduk di bangkau meja kelas 6 di Madarasah Ibtidaiyah,
aku masih terkesan masa-masa kenakalanku dulu, ketika wali kelasnya Ibu Anik Zuhriyah,
Aku juga masih membekas ketika banjir 3 hari 2 malam, waktu itu bersih-bersih di sekolahan bersama bu Anik dan semua murid kelas 6,

Aku masih ingat ketika di jewer telinga kananku oleh kepala sekolah Pak Ruslan, karena tidak tidak ikut upacara,
Masih terkesan ketika aku berdiri gak hafal nadhom alfiyah ketika di ajar kepala sekolah oleh KH Muslim.
Kenangan indah kenakalanku ketika aku bolos di  kuburan mbah suro dan di jemput pak Ali Hamdi.


Sungguh membelalakkan mata, membukakan nurani di saat usiaku mulai bertambah
Bangkau sebelah kanan urutan nomer 2, terkadang membuat bu anik kesal dan kerepotan.
Suasana sekolah pedesaan memancing untuk tersenyum orang-orang yang tidur pulas
Tanah kelahiran yang memperhalus keluhuran budi di saat para guru madrasah pagi dan sore
Lantunan suara anak2 sedang menghafalkan sya'ir2 tajwid  dan imrithi,  menggema di sudut dinding tembok kayu  madrasah

Sang guru mendengakan dari jauh dengan senyuman kebahagiaan,
Sang orang tua meneteskan air mata di saat melewati depan madrasah untuk pergi ke sawah
Tetapi entahlah sekarang! Sperti apa?
Suasana semakin merubah wahana

Lewat coretan tinta inilah aku hanya bisa berdo’a
Semoga para guru madrasah tetap sama memegang teguh pendiriannya
Meskipun aku tidak seperti mereka, tetapi, ILmu di yang di ajarkan mereka masih tetap aku jaga.
Sampe aku dewasa bahwa nanti di kuburan sabagai bukti perjuanganya
Akan aku persembahkan keringat perjuangan mereka di hadapan allah semata

**********************************
NB: Salam untuk temen2 generasi muda sejagat raya,
Semoga celotehan anak desa ini bisa menjadi buah bibir para pembaca yang lagi asyik mengingat ketika belajar untuk muhasabah, intropeksi diri demi melanjutkan perjuangan orang tua kita guru kita yang di desa dan dan para pendahulu kita yg sudah meninggalkan kita semua, semuanya ada waktu dan titi MONGSO untuk lebih dewasa, karena bapak ibulah yang mendampingi hidup kita sejak kita masih belita,

************************
Jogjakarta / sabtu / 28 /maret / 2015
Muhson wong ndeso
*********************************