MENANTI SENJA DI ESOK HARI

Ketika lidah terjepit, mata menghadap ke langit
Batin menjerit, bagai burung pipit
Negri subur yang terhimpit, suasana hidup semakin pailit
Bangkau-bangkau sekolah, ladang mencari duwit

Jutaan anak jalanan terdampar di parit
Meja-meja institusi untuk ajang sirkuit
Menangis di trotoar, jari-jemari tak terasa tergigit
Mulut terbungkam, dada seperti ter-iris-iris

Musim kemarau, hati dan fikiran menjadi ter-usik
Bulan di sore hari mulai mengintip
Tak sabar menunggu bintang kerlap-kerlip
Bangunan kosong, tak bisa merubah nasib

Kemiskinan mulai terlilit
Pernak-pernik kepalsuan hidup tampak sedikit demi sedikit
Warna-warni keserakahan sudah tak terelakkan
Tangisan orang teraniaya menjadi momok orang kuat

Tak seorangpun peduli
Seluruh mata pura-pura tak tahu
Hati mencibir pada orang yang tersakiti
Telinga tak mau mendengar jeritan sosok bocah ingusan dan lugu

Jogjakarta 18 / 05 / 2015
Lek Muhson wong ndesooooo
****************************